Tanda tanda malam Lailatul Qadar akan datang

Tanda tanda malam Lailatul Qadar - bulan puasa sebentar lagi berakhir, itu berarti umat muslim diseluruh dunia akan merayakan hari lebaran idul fitri. hari raya yang satu ini biasanya dimanfaatkan para umat muslim untuk menyambung tali silahturahmi satu sama lain dan saling beermaaf-maafan
jika bulan suci Ramadhan akan berakhir, berarti dekat-dekat ini akan muncul malan Lailatul Qadar dong ? malam lailatul Qadar biasanya jatuh antara pertengahan sampai mendekati akhir bulan ramadhan, malam yang lebih baik dari seribu bintang ini biasanya banyak dicari para umat muslim sejati setanah air. jika dirasa malam lailatul qadar akan datang biasanya umat muslim pergi mengambil air wudhu setelah itu tadarus atau berzikir sepanjang malam. ayo buat para muslim atau muslimah lainnya jangan mau ketinggalan untuk merasakan malam yang lebih baik dari seribu bintang ini. berikut Tanda tanda malam Lailatul Qadar akan datang

[1] Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)

[2] Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

[3] Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

[4] Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)